Suzuki Ertiga Hibrida Sudah Diuji di Indonesia

Teknologi Smart Hybrid Vehicle by Suzuki (SHVS) yang sebelumnya cuma jadi barang pajangan pada dua kali pameran otomotif nasional, ternyata sudah diuji di Indonesia. Suzuki Indomobil Sales (SIS) rencananya bakal meluncurkan model baru berteknologi itu pada awal tahun depan.

Pihak SIS memang belum mau mengungkap nama modelnya, namun hampir pasti wujudnya Ertiga bermesin diesel dengan SHVS seperti produk yang sudah dijual di India.

Saat bertemu wartawan di Bogor, Rabu (14/12/2016), Harold Donnel 4W Head of Product Development & Accesories SIS memaparkan SHVS bekerja dengan dua fitur yaitu Integrated Starter Generator (ISG) dan start/stop.

ISG merupakan pengganti alternator sedangkan start/stop berfungsi mematikan kerja mesin setelah mobil berhenti cukup lama, misalnya saat lampu merah. Ketika pedal gas ditekan kembali maka mesin menyala lagi.

“Fitur start/stop ini sudah dalam masa pengembangan, sudah kami tes beberapa kali juga di jalanan Indonesia. Bukan hanya di Jakarta saja,” kata Harold yang ikut dalam pengetesan.

Harold tidak menjelaskan kapan pengujian Ertiga SHVS dimulai. Selain itu dia juga tidak mau membeberkan berapa angka efisiensi yang sudah dicapai.

SIS sepertinya lihai menyembunyikan pengetesan Ertiga SHVS, pasalnya hingga sekarang belum ada spyshot yang beredar. Salah satu triknya bisa jadi emblem SHVS dicopot, jadi penampakannya tidak terdeteksi karena mirip varian Ertiga lainnya.

Semua teknologi pada Ertiga hibrida baru buat Suzuki di Indonesia. SIS sebelumnya belum pernah menjual model hibrida ataupun bermesin diesel.

AHM Masih Bungkam soal Kerja Sama dengan Grab Bike

Honda Motor Jepang mengumumkan kerja samanya dengan Grab, salah satu perusahaan teknologi informasi, yang menyediakan aplikasi ojek online. Ini diangap jadi salah satu cara Honda untuk membangun pasar baru, khususnya di kawasan ASEAN.

Berkembangnya tren ojek online di Asia Tenggara ini cukup membuat khawatir Honda, yang bisa saja menurunkan penjualan. Produsen asal Jepang ini menganggap, menjamurnya ojek online bakal menggiring tumbuhnya tren from buying to sharing atau dikenal dengan “sharing economy”.

Di Asia Tenggara, Indonesia merupakan pasar penting Honda, bukan hanya terbesar di ASEAN, melainkan di dunia. Karena itu, sangat mungkin Astra Honda Motor (AHM) atau Honda Indonesia sudah mengetahui rencana kerja sama ini.

“Saat ini kami belum dapat memberikan informasi detail terkait bentuk kerja sama yang akan dijalin oleh Honda dan Grab. Ini kolaborasi prinsipal kami dengan Grab, dan ini masih tahap awal dari kedua pihak, menyediakan solusi mobilitas bagi masyarakat di masa depan,” ujar Thomas Wijaya, GM Divisi Penjualan AHM, kepada KompasOtomotif, Rabu (14/12/2016).

Baca juga : Honda Jadi “Beking” Grab, seperti Apa Wujudnya?

Dari pemberitaan yang dilaporkan Nikkei, Selasa (13/12/2016), dalam kerja sama ini, Honda kemungkinan besar akan menawarkan produk ramah lingkungan kepada operator Grab. Apakah produk yang dimaksud skuter listrik Honda?

“Kami belum memutuskan produk khusus sebagai alat transportasi penunjangnya. Terkait kendaraan yang akan digunakan dalam kerja sama ini, kami belum mendiskusikan model yang nanti akan digunakan. Pastinya kami selalu aktif melakukan inisiatif dalam melestarikan lingkungan, dan melakukan upaya mereduksi emisi gas buang kendaraan,” ucap Thomas.

Saat ditanyakan, apakah penurunan penjualan yang terjadi di Indonesia salah satunya dipengaruhi oleh tren sharing economy tersebut, Thomas menjawab, “Kami belum memiliki angka yang pasti terkait hal tersebut.”

Jika melihat data distribusi Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia (AISI), penjualan Januari-Oktober 2016 mengalami penurunan 2,6 persen, dibanding periode yang sama tahun lalu, atau hanya mencapai 3.620.761 unit.

Masih Ada Napas TVS di Indonesia, Meski Tipis

Memasuki penghujung tahun, PT TVS Motor Company Indonesia (TMCI) mengklaim perkembangan positif sebagai modal 2017. Hal ini dilihat dari sisi penjualan yang mengalami pertumbuhan cukup signifikan. Ya, merek TVS di Indonesia masih punya nafas.

Seperti dalam rilis resmi yang diterima KompasOtomotif, (15/12/2016), penjualan pada Januari-November 2016 mencapai 22.154 unit (total penjualan domestik dan ekspor), atau meningkat 17 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni 18.942 unit.

Sepanjang 11 bulan pertama tahun ini TMCI juga aktif mengekspor ke beberapa negara di Asia Tenggara, Timur Tengah, Amerika Latin, dan Afrika. Jumlah sepeda motor yang sudah dikirim ke mancanegara menyentuh 20.399 unit. Raihan ini berarti meningkat 12 persen dibandingkan Januari-Desember 2015.

Strategi Baru
Kerja keras TVS memang berbuah manis. Namun jika dilihat dari sisi yang lebih jauh, pencapaian merek India ini jauh dari total pasar domestik di Indonesia. Raihan 22.154 unit selama 11 bulan pertama 2016 didominasi oleh pencapaian ekspor, yakni 20.399 unit.

Artinya, TVS hanya mampu menjual 1.755 unit sepeda motor di pasar domestik. Angka yang sangat kecil jika dibandingkan merek tetangga. Raihan TVS itu hanya mampu merebut secuil kue (0,03 persen) pasar sepeda motor di Indonesia yang sudah mencapai 5 juta unit.

Itulah kenapa, TMCI mulai menjalankan strategi baru. Selain meningkatkan penjualan ekspor, mereka kini berupaya meningkatkan penjualan domestik dengan produk kategori Premium.

TVS Akula 310, konsep Sepeda Motor Sport akan dijadikan andalan masa depan. TMCI mengklaim, motor kembaran BMW G310R (tapi versi ber-fairing) ini mendapat review dan respons baik dari konsumen dan pengunjung IMOS 2016.

Suzuki Klaim Ertiga Hibrida Lebih Irit 50 Persen

Kelebihan teknologi Smart Hybrid Vehicle by Suzuki (SHVS) yang akan tersemat pada varian baru Suzuki Ertiga mulai awal 2017 mulai dijanjikan. Pihak Suzuki Indomobil Sales (SIS) mengklaim, level konsumsi bahan bakar bisa meningkat sampai 50 persen ketimbang mesin konvensional.

Harold Donnel 4W Head of Product Development & Accesories SIS, ‎di Bogor, Rabu (14/12/2016), menjelaskan, jika rata-rata kendaraan menggunakan satu liter untuk menempuh jarak 14 km, pada SHVS bisa sejauh 20 km.

“Namun itu tergantung cara berkendara dan menggunakan bahan bakar yang disarankan,” ucap Harold.

SuzukiMesin Ciaz 1.3L dengan SHVS (Smart Hybrid Vehicle by Suzuki).

Cara kerja SHVS berbeda ketimbang sistem hibrida pada umumnya yang bisa menggunakan salah satu dari dua pilihan sumber tenaga untuk menggerakan mobil. Pada SHVS kombinasinya sudah diatur, tidak bisa berjalan hanya dengan energi listrik.

Teknologi SHVS bekerja sama dengan Integrated Starter Generator (ISG) sebagai pengganti alternator, fitur start/stop, dan aki berkapasitas besar. ISG mengumpulkan energi dari pengereman yang kemudian digunakan untuk menyalakan mesin setelah start/stop aktif serta membantu akselerasi mesin.

“Teknologi ini memberikan efek lumayan besar, dari pengembangannya bisa dikatakan mesin ini cukup masuk ke dalam standarisasi kami untuk dipasarkan di Indonesia,” ucap Harold.

Di India, SHVS pertama kali diperkenalkan pada sedan Ciaz kemudian menyusul pada Ertiga. Buat Indonesia kemungkinan besar pilihannya adalah Ertiga SHVS.

China Perpanjang “Potongan Pajak” Mobil Kompak

Pemerintah China dikabarkan bakal memperpanjang pemotongan pajak, untuk kendaraan bermesin kecil sampai 2017. Informasi ini tentu akan membawa angin segar bagi para produsen mobil di China.

Mengutip Reuters, Rabu (14/12/2016) dari dua sumber terpercaya, ini merupakan salah satu cara untuk bisa mencegah penurunan tajam penjualan mobil tahun depan, jika pemotongan pajak berakhir seperti yang direncanakan, akhir tahun ini.

Masih belum jelas pengurangan pajak yang akan ditetapkan tahun depan, masih sama atau ada perubahan. Saat ini pemerintah China memangkas pajak sampai 5 persen untuk kendaraan dengan mesin di bawah 1.6 L.

Pada bulan Oktober 2015, pemerintah mengatakan, kebijakan itu akan berakhir di ujung 2016. Penjualan mobil di China merupakan yang terbesar di dunia, meski begitu China sempat berjuang dari penjualan yang lemah pada tahun 2015, di tengah perlambatan ekonomi.

Namun kemudian, penjualan bisa rebound kuat, berkat kebijakan pemotongan pajak. Penjualan mobil telah meningkat 14,1 persen pada periode Januari-November 2016, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

“Kami beroperasi di bawah asumsi bahwa hal itu akan diperpanjang,” kata salah satu sumber Reuter, yang tidak berwenang untuk berbicara kepada media tentang masalah ini. Dirinya melontarkan keyakinannya akan pernyataan yang disampaikan. Sumber kedua juga mengatakan, kebijakan itu akan diperpanjang selama setahun penuh hingga 2017.

Saat ditanyakan, pihak Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi, bersama dengan Kementerian Keuangan, masih belum mengomentari masalah ini. Seorang pejabat Kementerian Perindustrian juga mengamini apa yang dikatakan sumber Reuters.

Para analis otomotif memperingatkan, kalau penjualan akan mengalami penurunan atau menjadi flat tahun depan, jika pemotongan pajak diputuskan berakhir tahun ini. Rekomendasi serupa juga disampaikan oleh asosiasi produsen mobil China, walaupun penjualan tumbuh tanpa kebijakan “tax cut”, paling banyak hanya sebesar 2 persen di 2017.

“Immobilizer” Masih yang Paling Aman dari Pencurian

Kabar mengenai “perangkat misteri” yang bisa menjebol kunci kontak mobil dengan teknologi keyless, immobilizer atau dengan tombol start-stop, sangat menghawatirkan. Meski kejadian ini masih di wilayah Amerika, tapi bukan tidak mungkin akan bisa diaplikasikan di Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Ichsan Ady Permana, Instructure Technical Training Center Astra Daihatsu Motor mengatakan, system immobilizer masih menjadi yang paling aman. Walaupun kewaspadaan harus tetap dijaga.

“Sejauh pemahaman dan pengalaman saya, setiap mobil yang dilengkapi dengan immobilizer sudah aman dari pencurian. Kalau kita mempelajari sistem dari immobilizer, baik yang menggunakan anak kunci ataupun key free, maka akan sangat sulit untuk meretas kunci tersebut,” ujar Ichsan kepada KompasOtomotif, Selasa (13/12/2016).

Baca juga : Tombol “Start-Stop” Bukan Jaminan Aman dari Maling

Ichsan melanjutkan, memang selalu ada celah untuk mencuri kendaraan, meski sudah berteknologi immobilizer. Namun, hal itu membutuhkan alat dan komponen khusus, serta teknik pengetahuan dari sistem tersebut. Lebih dari itu, tentunya ini akan membutuhkan waktu lama untuk menjebolnya. Sedangkan yang namanya pencurian identik dengan kecepatan waktu.

“Namun, jika ditanya apakah tetap bisa dicuri, tentu bisa. Seperti misalnya mobil diderek, atau dengan menggandakan kunci asli (dengan metode khusus), oleh si penyewa mobil atau orang terdekat,” ujar Ichsan.

Sementara Iwan Abdurahman, Repair Service Manager Workshop Department Technical Service Division PT Toyota Astra Motor (TAM), masih belum ingin komentar terkait hal ini, ketika ditanyakan KompasOtomotif.